Wednesday, November 16, 2016

Pasar Global Kondusif, IHSG Berpeluang Menguat

Tags

Pasar Global Kondusif, IHSG Berpeluang Menguat  


Pasar Global Kondusif, IHSG Berpeluang Menguat  
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/M Agung Rajasa
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpeluang rebound. Analis ekonomi First Asia Capital David Sutyanto mengatakan kondisi pasar global dan emerging market yang kondusif, juga kenaikan sejumlah harga komoditas, diperkirakan menggerakkan aksi beli terhadap saham-saham berbasiskan komoditas. "IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 5.310 dan resisten di 5.360 berpeluang rebound," ujar David Sutyanto dalam pesan tertulisnya, Selasa, 16 Agustus 2016.

Di pasar global, Wall Street tadi malam melanjutkan tren kenaikan. Indeks saham utama berhasil mencatatkan rekor tertinggi baru. Indeks DJIA dan S&P masing-masing naik 0,3 persen di 18.636,05 dan 2.190,15. Indeks Nasdaq naik 0,6 persen di 5.262,02.

Menurut David, kenaikan indeks tersebut didorong oleh katalis The Fed, di mana pasar menilai kenaikan tingkat bunga The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) tidak akan terjadi tahun ini. Hal tersebut menekan dolar Amerika dan mendorong kembali kenaikan harga minyak mentah tadi malam. Harga minyak mentah di Amerika naik 2,7 persen di US$ 45,71 per barel.

IHSG pada perdagangan kemarin melanjutkan koreksinya untuk lima hari perdagangan berturut-turut. IHSG ditutup di 5.320,561 atau koreksi 56,63 poin (1,05 persen). Koreksi IHSG terutama dipicu aksi ambil untung lanjutan di sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama yang bergerak di telekomunikasi, utilitas, otomotif, tambang, dan properti.

Kinerja ekspor-impor Indonesia pada Juli lalu yang kembali turun, turut menambah sentimen negatif di pasar. Ekspor Indonesia pada Juli lalu turun 26,67 persen (mom) dan 15,22 persen (yoy) di US$ 9,51 miliar. Ini merupakan angka ekspor bulanan Juli yang terendah sejak 2009.

Adapun impor Juli 2016 mencapai US$ 8,92 miliar, turun 26,28 persen (mom) dan 11,56 persen (yoy). Surplus neraca perdagangan pada Juli lalu hanya mencapai US$ 598 juta, turun dibanding Juni 2016 sebesar US$ 879,2 juta.

Namun koreksi IHSG kemarin tidak sejalan dengan pergerakan bursa kawasan Asia yang umumnya ditutup di teritori positif, kecuali bursa saham Jepang. Hal itu terjadi menyusul kekecewaan pasar atas pertumbuhan 2Q16 ekonomi Jepang yang hanya tumbuh 0,2 persen (yoy) di bawah estimasi ekonom sebelumnya, yakni 0,7 persen.




https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/08/16/092796270/pasar-global-kondusif-ihsg-berpeluang-menguat


EmoticonEmoticon